Peradaban dan Budaya

Posted by in Prosa Filsafat Angka

Manusia telah lahir bersama hidup yang dia bawa
Bersama daya dan upaya mengandalkan Jiwa
Untuk memperlihatkan bahwa ia mampu melampauiĀ  wibawa
Sebelum ia terjatuh dan akhirnya tertawa

Berusaha untuk bertahan hidup
Terkadang membawa cahaya yang terang dan terkadang redup
Atau diantara gelap berteriak berharap langit terkecup
Agar hidup terus berlanjut dan bahagia yang cukup

Manusia bukanlah kera
karena kera hingga kini tetaplah kera
berbeda karena semua memiliki cara
terus bekembang hingga jiwa tak mampu bicara

Manusia terus berkembang dengan pemikirannya
Namun manusia terus dikekang dengan volume otak yang ada dikepalanya
boleh lah dia berusaha terbang tuk capai imajinya
hanya saja semesta akan memberi batas yang jelas tentang siapakah dirinya sebenarnya

Selalu mencari arti dalam setiap langkah yang terlewati
bekerja keras tuk berlari dari rasa jenuh yang menjebak hati
hingga mencoba tak sekedar tuk bertahan lebih lama dari mati
mencari nilai duniawi agar lebih ternikmati

pada awalnya begitu sederhana tuk menemukan inovasi
hanya sekedar mencari batu tuk memecah biji
kemudian dibakar oleh gesekan batu munculkan api
seiring waktu batu pun diiris tajam menjadi belati

rasa khas ketidaksabaran adalah manusiawi
sehingga penemuan adalah bagian dari sebuah ciri
bahwa manusia akan selalu berusaha berlari
diantara malasnya tubuh-tubuh manja terbuai mimpi

mereka mencari dan terus mencari
agar waktu tidak berhenti
dan ketika jenuh mereka mencoba bernyanyi
atau bahkan bergerak untuk mencoba menari

batu itupun dipukul-pukulkan agar mengeluarkan bunyi
bunyi-bunyi yang menghilangkan sunyi
sehingga tubuh bergerak riang menutupi suara sendi
sambil mengangkat batu membentuk candi

diantara bongkahan batu, dan para benda mati
manusia akan terus mencoba mencari
sedangkan alam telah tersedia dengan pasti
beberapa takut ketika mati menghampiri

mereka mencari dan terus mencari
ketika sadar rasa lemah yang ada pada diri
mulai mencari sandaran-sandaran sang hati
akhirnya para benda mati mulai menjadi pengganti

hingga seluruh penemuan dijadikan abdi
agar rasa takut sirna dari bumi
dan pesta pora dapat terus ternikmati
sehingga menjauh dari para hantu pengejar mati

manusia semakin cerdas
sebagaian mulai berbagi dalam sebuah komunitas
atau berpetualang kedunia lain yang lebih keras
yang kemudian menemukan pandangan lain yang berbeda tertulis oleh kuas

membentuk tulisan dan bunyi-bunyi bahasa yang berlainan
menjadikan perbedaan warna kulit diri yang beragam
temukan warna dunia yang berbeda meskipun berjarak diantara dataran
etikapun mulai menjelma hingga mentari terbenan

manusia sadar usianya terasa semakin sempit..
sehingga mereka bekerja keras agar segalanya jauh lebih cepat
manusia sadar bahwa jiwa semakin terhimpit..
terkadang perbedaan munculkan kebencian yang sangat rapat

nilai persaingan muncul sebagai motivasi harga mati
semua berlomba tuk merasa menjadi lebih baik
merasa lebih layak untuk lebih dihargai
peradaban dunia bergerak menjulang tinggi dan menaik

manusia berlomba tuk dapat terilhat lebih tinggi
namun tinggi bukan berarti dapat bertahan tanpa rugi
akhirnya jatuh telah menjadi bagian yang terbagi
manusia tetap saja penasaran dan mencari hingga pagi

perpecahan dan peperangan menjadi santapan raja
egoisme tuk saling menguasai tahta yang ada
hingga akhirnya mereka merasa dirnyalah yang lebih bersahaja
berharga diantara nilai-nilai jiwa yang ada

detik demi detik… menit demi menit… jam demi jam..
hari ddemi hari… minggu demi minggu… bulan.. demi bulan…
tahun demim tahun… abad demi abad… generasi ke generasi…
zaman ke zaman… bersama bumi yang masih berputar

manusia akan selalu haus oleh perubahan
manusaia akan selalu jenuh dengan keterkinian
manusian akan selalu befikir dengan kekuasaan
dan.. manusia akan selalu jatuh, ketika cawan anggur telah memabukkan

semesta tidak begitu kaku
jika cerita ini terus terpaku
oleh rotasi perputaran bumi..
seolah-olaha segalanya akan mengulang kembali masa-masa yang terlewati

entah sampai kapan semua yang terjadi berakhir
hanya saja akhir dari setiap jiwa akan selalu terasa cepat dan getir
seperti terbawa badai dan tersambar petir
hanya sekejap… tuk capai titik nadir..

itulah manusia.. manusia… yang berjalan… diatas bumi
sementara semesta tetap diam menerima aksi manusia bersama mimpi
peradaban kan berubah terbangun menjulang tinggi
atau hancur lebur tersapu ombak yang terselami

itulah manusia.. manusia yang berjalan… diatas bumi
sementara otak terus berfikir tuk gapai cinta hakiki
yang penuh dengan gelombang fatamorgana nan ilusi
melahirkan nilai.. dosa.. dan emosi…..